Friday, April 11, 2008

Kamuflase Demokrasi AS

14 juli 1789, terjadi sebuah peristiwa yang mempengaruhi peta politik dunia. Revolusi prancis. Di tulisan kali ini, saya tidak akan menggambarkan bagaimana situasi menjelang, atau pasca revolusi besar ini. Kalian bisa membacanya sendiri di buku-buku sejarah atau mencarinya di internet. Kali ini saya akan menyinggung tentang tiga slogan yang tampak indah didengar yang populer ketika revolusi 1789 meletus. ”Liberte, Egalite, Freternite” (kemerdekaan, persamaan, dan persaudaraan). Jargon ini mampu membius rakyat prancis yang saat itu sedang mengalami masa-masa bersejarah. Mereka dengan bangga meneriakkan jargon-jargon kosong tersebut ke seluruh prancis dan berdengnug sampai ke seluruh daratan eropa. Slogan ini terus di perdengarkan sampai semua rakyat percaya kebaikan slogan tersebut hingga rakyat rela mengorbankan apa saja untuk memujudkannya.

Kalian mungkin saja termasuk yang terbius dengan tipu daya semboyan tersebut. Dan dengan terus terang, saya juga sempat terhipnotis slogan tersebut. Tapi itu dulu. Seiring dengan perkembangan wawasan, saya menyadari bahwa jargon-jargon yang nampaknya baik, belum tentu baik bagi keberlangsungan kehidupan. Saya sempat terkejut ketika membaca buku Yahudi Menggenggam Dunia karya William G. Carr seorang agen inggris berpangkat admiral yang memiliki pengalaman khusus di dunia rahasia. Yang di bagian buku ini mengutip ungkapan dari para sesepuh yahudi, ”kita adalah orang yang pertama menyerukan di tengah masyarakat lampau semboyan Liberte, Egalite, Fraternite hingga bangsa-bangsa dungu dunia mengulang-ulang semboyan tersebut, tanpa menyadari makna di baliknya. Bahkan karena sikap mereka berlebih-lebihan terhadap semboyan kosong tersebut telah menjauhkan dunia dari persaudaraan, kebersamaan, dan kebebasan pribadi yang sebenarnya”.
Jika kalian ingin lebih mengetahui tingkah polah kaum yahudi dalam mewujudkan megaproyek mereka yaitu untuk menguasai dunia dengan tata dunia baru, kalian bisa membaca buku Yahudi Menggenggam Dunia yang telah saya sebutkan di atas, buku Knigh Templar Knight of The Christ karya Rizky Ridiasmara, dan buku-buku konspirasi lainnya.

Karena beberapa hal di atas, saya jadi teringat ide demokrasi yang selama ini dianggap sakral oleh masyarakat di dunia. Saya mulai ragu dengan proses demokratisasi, HAM, Pluralisme, dan kebebasan-kebebasan yang merupakan semboyan-semboyan mirip Liberte, Egalite, Fraternite. Karena banyak Negara (AS dan sekutunya) dan sekumpulan orang yang memasarkan ide-ide tersebut tetapi merekalah juga yang melanggarnya. AS menyerang Afganistan dan membentuk Negara boneka di sana, menggantikan rezim Taliban dengan alasan memerangi terorisme dan menangkap para anggota Al-Qaeda tak terkecuali “bos besar” mereka Usamah bin Laden. Kenapa AS tidak segera menangkap Usamah? Apa kendala dari Negara superpower hanya untuk menangkap satu orang saja? Kenapa harus mengganti sebuah rezim di Afganistan dengan sistim demokrasi ala Amerika? Saya beranggapan (anggapan saya ini ilmiah lho...berdasarkan bukti-bukti yang saya temukan di beberapa buku) Amerika Serikat bertujuan menguasai sumber daya minyak yang ada di tanah Afganistan. Mereka membentuk sebuah negara boneka untuk memudahkan dan melanggengkan kepentingan-kepentingan mereka. Usamah bin laden tidak dengan serius diburu, tetapi juga dipelihara sebagai pembenaran mereka (memerangi terorisme) dalam rangka tujuan jangak panjang dan jangka pendek mereka menguasai minyak di timur tengah. Kasus serupa juga dialami oleh Iraq.

Tetapi siapa saja yang berada di balik kebijakan-kebijakan pemerintah AS? perlu diketahui, mereka adalah para yahudi zionis yang bersembunyi di balik jubah neokonservatif dan judeo-christian yang bermain di belakang layar pembentukan kebijakan-kebijakan di AS. Mereka menyerukan agar A.S menyebarkan demokrasi dan pasar bebas ke seluruh dunia. Walaupun dengan cara preemtive strike sekalipun. Mereka menyebarkan ide-ide tersebut agar diterapkan di seluruh Negara di dunia sehingga secara sadar atau tidak untuk melayani kepentingan-kepentingan AS dan tentunya kepentingan Yahudi Zionis.
Sosok Negara-negara sekuler demokrasi, demokratis dan terbuka (seperti AS) sebenarnya hanya nampak pada tampilan luarnya saja, seperti teknologi modern, media, dan bukunya saja. Tetapi perilaku, keyakinan, ideology dan way of life mereka seperti masyarakat jahiliyah dan “barbar” yang bersifat materialisme dan menyukai peperangan.

Propaganda in the Movie

Film. Inilah bentuk hiburan yang sering kita nikmati. Bisa di depan TV, di bioskop, di komputer, atau miniteater di kampus. Tampaknya, kebanyakan orang-orang lebih santai menikmati film dari pada membaca novel atau sejenisnya. Para produsen film tidak kehabisan akal untuk membuat film ataupun sinetron yang bisa dinikmati semua anggota keluarga.Untuk anak-anak sebut saja Sesame Street yang saat ini telah ada versi indonesianya, Jalan Sesama. Di segmen remaja, kebanyakan film-film yang bergenre love dan horor. Pria dewasa mungkin lebih menyukai film-film beraroma sex seperti James Bond, dan American Pie. Nah, untuk para ibu, jangan ditanya, menonton sinetron sudah menjadi ritual di depan tv.
Bagi para penikmat film, tentunya anda pernah menonton film buatan Holywood, film Asia, Bolliwood, ataupun karya anak Indonesia. Tetapi apakah anda pernah merasakan aroma propaganda yang merasuki film-film tersebut? Pastinya lebih dari sekedar love, horor, dan sex. Tetapi lebih dari itu semua. Yaitu unsur-unsur politis, religi, history, bahkan rasis. Di Amerika dan eropa, film-film semacam itu tampaknya lebih sensasional dan surprising dari sekedar film sex. Karena kontroversi dan dampak akibat film-film ini bisa lebih panjang dari pada durasi film yang rata-rata hanya 120 menit.

Sebut saja film The Da Vinci Code, yang menuai protes dari kalangan umat nasrani yang diwakili oleh para pemimpin gereja vatikan. Film yang didasarkan pada novel karya Dan Brown ini dinilai dapat menggoyahkan akidah umat nasrani. Bahkan para pemimpin umat kristiani di setiap negara menuntut memboikot film garapan sutradara Ron Howard tersebut agar tidak ditayangkan di bioskop-bioskop. Serta sebelumnya juga ada film Passion Of The Christ garapan Mel Gibson yang juga mengundang banyak kontroversi.

Di dunia islam, mencuatnya kasus film Fitna karya Geert Wilders akhir-akhir ini memebuktikan film dapat menjadi sarana propaganda dan juga provokasi. Akibat film durasi 17 menit tersebut umat islam sedunia mengutuk keras film itu dan menuntut hukuman mati kepada si creator filmnya. Sampai-sampai film ini dicekal dan tidak boleh tayang di tv manapun, bioskop manapun, dan di website manapun di seluruh dunia! Fitna bukan yang pertama. Sebelumnya film submission yang di sutradarai Teo van Goght juga menuai protes keras dari kalangan Umat Islam Belanda dan dunia. Walaupun film ini gagal tayang dan berakhir pada pembunuhan terhadap si sutradara.

Itulah nama-nama film dari sekian banyak film yang mengundang banyak kontroversi dan ancaman terhadap siapa saja yang terlibat di dalamnya lewat provokasi dan propaganda yang mendiskreditkan agama. Selain agama, banyak juga para produsen film yang menggunakan unsur-unsur rasial untuk menarik perhatian khalayak. contohnya film Schlindler’s List (1993). Film ini bercerita tentang pembantaian (holocaust) terhadap warga Yahudi di kamp konsentreasi Auschwit, Polandia yang dilakukan Nazi pada perang dunia ke II. Dan upaya Oskar Schlindler, orang yang selamat dari pembantaian, untuk membebaskan 1100 warga yahudi yang dianggap penting dari kamp dan membawa mereka ke gudang amunisi miliknya di Chekoslovakia. Akibat dari film ini, Di Indonesia, MUI pernah berfatwa untuk melarang pemutaran film Schlinders List. Lantaran efek pemutaran film ini dikhawatirkan bisa membangkitkan semangat simpati Yahudi dan mungkin bisa mengubah pandangan masyarakat terhadap Yahudi Israel yang menjajah negeri Palestina dan mengusir para penduduknya.
Selain itu juga terdapat film The Pianist yang mendapatkan berbagai penghargaan. Film ini juga menggambarkan peristiwa holocaust terhadap orang-orang yahudi polandia. Dan masih banyak lagi film yang menggambarkan tragedi kemanusiaan yang terjadi pada masa perang dunia II terutama perlakuan para penguasa, termasuk Hitler terhadap bangsa yahudi. Film-film tersebut bukan tidak mungkin sengaja dibuat untuk membentuk opini publik agar simpati terhadap bangsa yahudi.

Film juga dapat dijadikan alat propaganda politiknya. Dalam sejarahnya, pemerintahan Roosevelt di masa perang dunia II membuat film-film seperti Why We Fight yang membenarkan keterlibatan Amerika Serikat ke dalam perang. Selain itu, film-film yang menghibur publik karena kekalahan Amerika di perang vietnam juga pernah diproduksi. Seperti si jagoan Rambo yang dianggab sebagai pahlawan dalam perang vietnam, padahal di perang vietnam, Amerika adalah pecundang yang kalah oleh perlawanan para gerilyawan Vietkong.
Di Indonesia, film G 30 S/PKI juga dianggap sebagai propaganda politik orde baru dalam rangka memerangi komunisme. Terlepas dari keterlibatan pemerintah. Film syiriana yang dimainkan oleh George Clooney, sebenarnya juga mempunyai unsur politik. Tetapi tidak seperti biasanya, film ini menggambarkan strategi dan konspirasi perusahaan minyak raksasa yang berambisi menguasai minyak di timur tengah. Kalau anda sempat main-main ke rental film, cobalah sekali-kali cari film-film yang bernuansa politis. Akan sangat banyak film-film seperti itu yang tersedia dan lebih dari sekedar apa yang dibicarakan di atas tadi.

Sejarah juga dapat menjadi senjata para sutradara film dalam rangka menarik banyak penonton. Film mini seri Band Of Brothers garapan sutradara Spielberg dan Tom Hanks ini berhasil meraih banyak penghargaan. Film sepuluh seri ini menceritakan salah satu Kompy yang ikut berperang di perang dunia II. Walaupun agak terkesan subyektif, film ini bisa menggambarkan peristiwa dalam peperangan yang terjadi, semisal gagalnya sekutu dalam operasi market garden di Belanda. Ada juga film Kingdom Of Heaven. Film kolosal garapan Ridley Scoot ini sempat berhasil mendudui peringkat atas box office amerika. Bagusnya di film ini, si sutradara mencoba berlaku adil dan jujur dalam film yang menceritakan keterlibatan Ballian di perang salib 3. Cinema indonesia juga pernah memproduksi film-film sejarah. Diantaranya Tjut Nya Dien karya Eros Djarot dan Fatahillah garapan Chaerul Umam dan Imam Tantowi.

Film-film di atas kayaknya terlalu sederhana kalau hanya dicap sebagai film hiburan, pasalnya pesan dan provokasi yang terdapat dalam film-film tersebut sangat sangat terasa. Lebih dari sekedar aksi Bruce Willis menyelamatkan bumi dari hantaman asteroid, dan terlebih lagi dari sekedar kisah percintaan Romeo & Julliet. Dan yang terpenting, mengundang kontroversi. Jadi, apa yang membuat para produsen film doyan bikin film-film kayak di atas tadi kalau hanya mengundang kontroversi? Pastinya tidak hanya sekedar cari sensasi, dollar, maupun Academi Award. Lebih dari itu semua.
Ya, sesuatu yang bernilai dari sejarah. Itu salah satunya. Para produsen ingin menjadikan film tidak hanya sebagai hiburan tetapi juga sebagai lahan pendidikan dan mengajak khalayak untuk menengok kembali sejarah peradaban mereka agar menjadikan para khalayak terutama generasi muda tidak masa bodoh dengan sejarah. Para produsen juga menjadikan film sebagai alat untuk menyetir opini publik. Seringnya film-film Holywood yang menggambarkan penindasan orang-orang Yahudi. Di tengah masyarakat yang anti-semit, film-film tersebut diedarkan agar menarik simpati publik terhadap Yahudi dan berupaya menyetir opini publik untuk mendukung pendudukan mereka di tanah Palestina.

Bagaimana di Indonesia? di indonesia saat ini, sudah sangat banyak sutradara-sutradara muda yang telah menuai banyak karya. Tetapi untuk film-film yang mempunyai unsur-unsur di atas tadi tampaknya tidak banyak yang berani membuatnya. Prihatin juga sih, generasi muda yang seharusnya diberi porsi pendidikan bermutu yang lebih, malahan disuguhi film-film di bioskop yang bergenre ”itu-itu aja”. Tidak banyak film-film yang diikuti dengan berfikir.
Tapi, saya cukup salut buat Hanung Bramantyo yang udah menggarap Ayat-Ayat Cinta. Yang konon katanya, setelah nonton itu film, banyak orang yang ingin lebih mendalami ajaran islam. Tapi, apakah hanya Ayat-Ayat Cinta saja? Perlu diketahui, bahwa umat islam mempunyai sejarah yang indah. Di indonesia, jejak kerajaan islam dan para pemimpin muslim serta para wali songo seharusnya bisa menjadi pelajaran-pelajaran yang dapat dikemas dalam bentuk film. Film The Messenger telah memberi contoh kepada para sineas muslim indonesia untuk membuat film yang mengajak kepada dakwah islam. Menggambarkan kejayaan islam masa lalu dan perjuangannya di masa sekarang. Agar masyarakat kita tidak terus menerus dibodohi dan dibohongi oleh film-film Holywood yang dikuasai oleh antek-antek zionis. Masalahnya sekarang, mau tidak mereka membuat film-film kayak gitu?