Ronald Reagan dalam suatu pidatonya pernah menyatakan bahwa Amerika Serikat (AS) adalah bangsa kaya karena diberkati Tuhan. Jika anda tidak setuju atas apa yang dinyatakan oleh Reagan di atas, maka bisa mungkin anda berpendapat sama seperti saya. Ya, karena sebenarnya kemakmuran dan kekayaan AS tidak lain adalah hasil jerih payah para perompak, para bandit jenius, dan para pemeras yang menguras sumber daya alam dari negara-negara, terutama negara dunia ketiga.
Pernyataan Reagan di atas merupakan salah satu senjata AS untuk semakin menguasai dunia. Yaitu Manifest Destiny. Menurut Ben Wettenberg, Meski perang dingin telah usai, runtuhnya Uni Soviet, dan AS menjadi satu-satunya negara yang berkuasa di dunia, tetapi perang suci terus selalu dijalankan. Yaitu menyebarkan ide demokrasi ke seluruh dunia. Hm.....jadi apa yang menjadikan AS gencar menyerukan ide buatan mereka ke seluruh dunia? Tampaknya hal itu membuat saya lebih mengerti mengenai keserakahan AS. AS menjadikan demokrasi sebagai senjata untuk terus melanggengkan hegemoni mereka di negara-negara dunia. Invasi ke Irak dan Afghanistan, menguatkan pernyataan Wettenberg mengenai perang suci tersebut. AS tampaknya terganggu dengan rezim Saddam Husein yang selalu menghalangi dalam tujuan meraup minyak di tanah 1001 malam itu. Akhirnya pada tanggal 20 maret 2003 AS menyerbu Irak dengan dalih memusnahkan senjata pemusnah massal. Tidak hanya menghancurkan sarana umum, invasi AS ke Irak juga menelan korban sipil mencapai puluhan ribu orang. Jumlah penduduk Irak yang tewas diperkirakan antara 10.000-30.000 jiwa, jumlah tersebut melebihi jumlah korban tewas runtuhnya menara WTC 11 september 2001 lalu. Padahal menurut mantan menteri keuangan sekaligus anggota tim keamanan nasional AS, Paul O’Neill, tidak pernah ada bukti kepemilikan senjata pemusnah massal di Irak.
Pasca perang dingin, dan runtuhnya kekuasaan Uni Soviet, AS menjadi salah satu negara super power, polisi dunia dan menjadi kekuasaan unipolar di dunia. Sejak itu pula AS semakin gencar menjajakan ideologi kapitalisme mereka, globalisasi dan pasar bebas termasuk dalam program mereka. Operasi militer menjadi jalan terakhir yang dilakukan oleh AS dalam menguasai dan mengeksploitasi sumber daya sebuah negara. Bukan hanya invasi ke Irak, Sebelumnya, amerika pernah menginvasi Afghanistan (2001), Yunani (1947-1949), Italia (1948), Korea (1950-1953), Iran (1953). Guatemala (1954), Kongo (1960), Kuba (1960), Vietnam (1969-1975), Laos (1961-1975), Dominika (1965), Kamboja (1969-1971), Chili (1973), Granada (1983), Lebanon (1958 dan 1983), Libia (1986), Panama (1989), Somalia (1991-1992), dan Serbia (1999). Dan tentunya kita tidak akan pernah melupakan oleh siapa bom atom pertama digunakan dalam perang (1945).
Betapa menjijikan, negara adikuasa super power seperti AS melakukan pelanggaran HAM terbesar sepanjang sejarah. Betapa memalukan negara yang mengemban nilai HAM dan mengaku sebagai pusat demokrasi dunia memberikan kebebasan pada tentaranya dan sekutunya untuk membunuh warga sipil dan mengeksploitasi sumberdaya negara lain.
Tetaplah waspadalah! Jangan kira kita yang ada di Indonesia bakal aman-aman saja. Jika pemerintahan kita masih saja menjadi ”anjing pudelnya” AS, bersiaplah, di tahun-tahun yang akan datang kita bakalan terjajah sebenarnya terjajah, baik secara fisik dan pemikiran, politik, ekonomi, serta kebebasan kita. demi takdir mereka, Manifest Destiny.
